Bersiap-siap
Menghadapi Krisis
Mata uang Rupiah kita semakin tak berdaya. Rupiah terpuruk,
bahkan terparah sejak 1998, artinya krisis ekonomi semakin didepan mata. Bila pemerintah
tak sigap, maka hal terburuk bisa jadi kenyataan.
Masih segar dalam ingatan publik, krisis ekonomi moneter begitu
parah di 1997 hingga 1998. Saat itu dolar bahkan menyentuh level Rp 25.000. krisis
ekonomi waktu itu berdampak pada krisis politik. Gelombang demonstrasi
dimana-mana dan situasi politik memperparah goncangan ekonomi.
Kini, Rupiah terpuruk lagi. Nilai tukar Rupiah yang
ditransaksikan antar bank di Jakarta, terdepresiasi 49 poin ke level Rp12.975
per Dolar AS. Menurut analisis, pelemahan nilai tukar Rupiah lebih di dorong kuatnya
data ekonomi Amerika Serikat sehingga menjadikan dolar AS mengalami penguatan
terhadap berbagai mata uang dunia.
Analisis menyebut data
ketenagakerjaan AS terus menunjukan tren penguatan. Pada februari terjadi penambahan
jumlah tenaga kerja non pertanian AS 295.000 orang. Meningkatnya data pekerjaan
AS itu, lanjut dia membawa tingkat pengangguran di AS turun menjadi 5,5 persen
dari sebelumnya 5,7 persen dan merupakan angka terendah sejak 2008 menguatnya
data ekonomi AS mendorong ekspektasi suku bunga AS (fed fund rate) akan
dinaikkan secepatnya, sehingga mendorong sentimen negatif kepasar modal maupun
kepasar valas di dalam negeri.
Pemerintah jangan tenang-tenang
saja dengan rupiah yang melemah. Terkesan pejabat kita tak menganggap serius
persoalan, bahkan ada kesan memang pemerintah sudah tak berdaya dengan
pelemahan Rupiah.
Bank Indonesia juga tak
berbuat banyak biasanya atas nama stabilitas moneter selalu melakukan
intervensi pasar. Sekarang, publik tak tahu banyak soal itu. Intervensi pasar artinya
mengeluarkan cadangan devisa sehingga nilai tukar menjadi stabil. Masyarakat bisa
saja curiga, jangan-jangan cadangan devisa kita sudah menipis sehingga tak ada
modal untuk intervensi pasar.
Rupiah melemah akibatnya bisa
gawat. Sebab, harga BBM bisa naik karena komoditas tersebut di impor. Kalau BBM
naik, maka harga jual ke konsumen juga harus di sesuaikan. Logikanya, panjang
mata rantai Rupiah melemah. Pemerintah memang harus berbuat sesuatu. Bila tim
ekonomi tak mampu bekerja, seharusnya Presiden membuat terobosan. Jangan sampai
keadaan bertambah parah.
good
ReplyDelete