Wednesday, 11 March 2015

Bersiap-siap Menghadapi Krisis



Bersiap-siap Menghadapi Krisis

 
 Mata uang Rupiah kita semakin tak berdaya. Rupiah terpuruk, bahkan terparah sejak 1998, artinya krisis ekonomi semakin didepan mata. Bila pemerintah tak sigap, maka hal terburuk bisa jadi kenyataan.

Masih segar dalam ingatan publik, krisis ekonomi moneter begitu parah di 1997 hingga 1998. Saat itu dolar bahkan menyentuh level Rp 25.000. krisis ekonomi waktu itu berdampak pada krisis politik. Gelombang demonstrasi dimana-mana dan situasi politik memperparah goncangan ekonomi.

Kini, Rupiah terpuruk lagi. Nilai tukar Rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta, terdepresiasi 49 poin ke level Rp12.975 per Dolar AS. Menurut analisis, pelemahan nilai tukar Rupiah lebih di dorong kuatnya data ekonomi Amerika Serikat sehingga menjadikan dolar AS mengalami penguatan terhadap berbagai mata uang dunia.

Analisis menyebut data ketenagakerjaan AS terus menunjukan tren penguatan. Pada februari terjadi penambahan jumlah tenaga kerja non pertanian AS 295.000 orang. Meningkatnya data pekerjaan AS itu, lanjut dia membawa tingkat pengangguran di AS turun menjadi 5,5 persen dari sebelumnya 5,7 persen dan merupakan angka terendah sejak 2008 menguatnya data ekonomi AS mendorong ekspektasi suku bunga AS (fed fund rate) akan dinaikkan secepatnya, sehingga mendorong sentimen negatif kepasar modal maupun kepasar valas di dalam negeri.

Pemerintah jangan tenang-tenang saja dengan rupiah yang melemah. Terkesan pejabat kita tak menganggap serius persoalan, bahkan ada kesan memang pemerintah sudah tak berdaya dengan pelemahan Rupiah.

Bank Indonesia juga tak berbuat banyak biasanya atas nama stabilitas moneter selalu melakukan intervensi pasar. Sekarang, publik tak tahu banyak soal itu. Intervensi pasar artinya mengeluarkan cadangan devisa sehingga nilai tukar menjadi stabil. Masyarakat bisa saja curiga, jangan-jangan cadangan devisa kita sudah menipis sehingga tak ada modal untuk intervensi pasar.

Rupiah melemah akibatnya bisa gawat. Sebab, harga BBM bisa naik karena komoditas tersebut di impor. Kalau BBM naik, maka harga jual ke konsumen juga harus di sesuaikan. Logikanya, panjang mata rantai Rupiah melemah. Pemerintah memang harus berbuat sesuatu. Bila tim ekonomi tak mampu bekerja, seharusnya Presiden membuat terobosan. Jangan sampai keadaan bertambah parah.       



1 comment: