BBM
Seperti Layang-Layang
Memasuki detik terakhir bulan maret 2015, harga bahan bakar minyak
kembali mengalami perubahan. Harga premium dan solar dinaikkan masing-masing
Rp500 perliter. Itu artinya dalam maret ini sudah dua kali terjadi perubahan
harga. Selama tiga bulan usia 2015 harga BBM sudah beberapa kali mengalami
perubahan. Harga BBM ibarat melepas layang layang, kadang ditarik kuat-kuat
agar terasa angin, setelah itu dilepas bila perlu sehabis benang.
Ya, pemerintah sekarang ibarat menaikkan layang-layang. Ketika
kekurangan angin, tali ditarik kuat-kuat, sampai ketemu angin yang mamadai. Setelah
layang-layang terasa angin, benangnya dilomba sejadi-jadinya. Bahkan bermain
layang-layang akan lebih enak, layangan ditarik dan dilepas berulang-ulang. Yang
tengah memegang benangpun senantiasa melihat keatas, hampir tidak mau melihat
kebawah. Ada yang dilupakan ketika layangan sudah jauh, bisa putus tali,
menukik dan bisa juga kena hujan yang pada akhirnya karam sendiri. Jika itu
yang terjadi pemilik layangan harus mengurut dada.
Semenjak pemerintah menaikkan harga BBM pada 28 maret lalu, gelombang
protes mulai terlihat bahkan wakil DPR ikut melancarkan protes kepada
pemerintah. Dalam benak anggota dewan, sangat kurang bijak apa yang dilakukan
pemerintah dengan menaikkan harga BBM disaat masyarakat tengah memikul beban
berat. Ini bukan sembarang alasan. Memang saat ini beban masyarakat sudah
sangat berat dengan adanya kenaikan berbagai kebutuhan hidup. Dalam sebulan
terakhir harga kebutuhan pokok melambung. Setelah ini masyarakat juga akan
berhadapan dengan berbagai pengeluaran besar menghadapi tahun ajaran baru.
Setelah tahun ajaran baru datang pula Ramadhan dan lebaran. Ini juga
menjadi masa-masa pengeluaran yang besar bagi masyarakat. Lantas bijaklah
pemerintah manaikkan harga saat ini? Bukankah sudah menjadi tradisi negeri ini,
apabila terjadi kenaikan harga BBM, maka semua kebutuhan hidup akan terkerek
naik.
Harga BBM merupakan kepentingan publik, jadi seharusnya dilakukan secara
terbuka. Karenanya, apa yang dilakukan pemerintah beberapa hari lalu dianggap
melanggar konstitusi. Selain itu, pemerintah dinilai tidak konsisten dalam
menetapkan harga. Tarik-ulur dan lepas-tarik harga BBM tiap sebentar hanya
membingungkan masyarakat.

No comments:
Post a Comment