Wednesday, 1 April 2015

BBM Seperti Layang-Layang



BBM Seperti Layang-Layang
 Memasuki detik terakhir bulan maret 2015, harga bahan bakar minyak kembali mengalami perubahan. Harga premium dan solar dinaikkan masing-masing Rp500 perliter. Itu artinya dalam maret ini sudah dua kali terjadi perubahan harga. Selama tiga bulan usia 2015 harga BBM sudah beberapa kali mengalami perubahan. Harga BBM ibarat melepas layang layang, kadang ditarik kuat-kuat agar terasa angin, setelah itu dilepas bila perlu sehabis benang.

 Ya, pemerintah sekarang ibarat menaikkan layang-layang. Ketika kekurangan angin, tali ditarik kuat-kuat, sampai ketemu angin yang mamadai. Setelah layang-layang terasa angin, benangnya dilomba sejadi-jadinya. Bahkan bermain layang-layang akan lebih enak, layangan ditarik dan dilepas berulang-ulang. Yang tengah memegang benangpun senantiasa melihat keatas, hampir tidak mau melihat kebawah. Ada yang dilupakan ketika layangan sudah jauh, bisa putus tali, menukik dan bisa juga kena hujan yang pada akhirnya karam sendiri. Jika itu yang terjadi pemilik layangan harus mengurut dada.

Semenjak pemerintah menaikkan harga BBM pada 28 maret lalu, gelombang protes mulai terlihat bahkan wakil DPR ikut melancarkan protes kepada pemerintah. Dalam benak anggota dewan, sangat kurang bijak apa yang dilakukan pemerintah dengan menaikkan harga BBM disaat masyarakat tengah memikul beban berat. Ini bukan sembarang alasan. Memang saat ini beban masyarakat sudah sangat berat dengan adanya kenaikan berbagai kebutuhan hidup. Dalam sebulan terakhir harga kebutuhan pokok melambung. Setelah ini masyarakat juga akan berhadapan dengan berbagai pengeluaran besar menghadapi tahun ajaran baru.

Setelah tahun ajaran baru datang pula Ramadhan dan lebaran. Ini juga menjadi masa-masa pengeluaran yang besar bagi masyarakat. Lantas bijaklah pemerintah manaikkan harga saat ini? Bukankah sudah menjadi tradisi negeri ini, apabila terjadi kenaikan harga BBM, maka semua kebutuhan hidup akan terkerek naik.

Harga BBM merupakan kepentingan publik, jadi seharusnya dilakukan secara terbuka. Karenanya, apa yang dilakukan pemerintah beberapa hari lalu dianggap melanggar konstitusi. Selain itu, pemerintah dinilai tidak konsisten dalam menetapkan harga. Tarik-ulur dan lepas-tarik harga BBM tiap sebentar hanya membingungkan masyarakat.        

No comments:

Post a Comment